Rabu, 11 Februari 2015

Tari Tor-Tor

TARI TOR - TOR


Nama anggota kelompok :
1. Dita Wulandari
2. Imroatul Ngizah
3. Putri Lestari
4. Siti Utari



SEJARAH TARI TOR-TOR

Menurut sejarah, tari Tor tor digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil dan "masuk" ke patung-patung batu (merupakan simbol leluhur).mPatung-patung tersebut tersebut kemudian bergerak seperti menari, tetapi dengan gerakan yang kaku. Gerakan tersebut berupa gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan.

RAGAM TARI TOR-TOR

Indonesia memang kaya akan kebudayaannya, menilik dari sebuah tor-tor saja sudah dapat dilihat banyak ragamnnya. Beberapa jenis tor-tor adalah; Tor tor Pangurason, Tor tor Sipitu Cawan, Tor tor Panaluan.
Tor tor Pangurason atau yang artinya tari pembersihan. Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut, hal tersebut dimaksudkan agar jauh dari mara bahaya.
Tor tor Sipitu Cawan atau Tari tujuh cawan. Tari  Sipitu Cawan ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Tor tor Cipitu Cawan ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung).
Terakhir, ada Tor tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Tor tor Tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah, dan Benua bawah.
GERAKAN TARI TOR-TOR
Dalam melakukan tarian tor-tor ada empat gerakan dari bagian-bagian organ tubuh penari, atau biasa disebut dengan urbot;
Pangurdot (yang termasuk pangurdot dari organ tubuh ialah daun kaki, tumit sampai bahu).
Pangeal (yang termasuk pangeal dari organ tubuh adalah Pinggang, tulang punggung sampaidaun bahu / sasap).
Pandenggal (yang masuk pandenggal adalah tangan, daun tangan sampai jari-jari tangan).
Siangkupna ( yang termasuk Siangkupna adalah leher).
Dahulu, tarian ini juga dilakukan untuk upacara adat ketika orang tua atau anggota keluarganya meninggal dunia. Kini, tari tor tor juga dikembangkan sebagai budaya, biasanya dipakai untuk menyambut turis, atau acara-acara adat lainnya.
Tor-tor memang menawarkan rangkaian keindahan yang patut kita banggakan dan perkenalkan ke muka Dunia. Pantas jika sebuah komunitas perantauan Mandailing di Malaysia, mencoba memperkenalkan tarian tor-tor dengan cara menarikannya di daerah perantauan mereka tersebut. Lambat laun masyarakat Malaysia-pun sudah mengenal tarian tor-tor, namun misi memperkenalkan budaya malah berbuah getir, Malaysia lagi-lagi berencana mempatenkan warisan anak negri menjadi kebudayaan leluhurnya. Seperti heboh hastag #tortorpunyaIndonesia  di media social twitter minggu malam tadi (18/6), terkait bahwa Negara Jiran tersebut ingin kembali mempatenkan kebudayaan Indonesia sebagai hak milik bangsanya. Kali ini Malaysia mulai melirik Tor tor dan Gondang Sambilan untuk "dimasukkan" ke dalam inventori budaya asli mereka.
Rencana memasukkan tari Tor-tor dan Gordang Sambilan sebagai peninggalan nasional Malaysia disampaikan oleh Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia, Datuk Seri Rais Yatim. Malaysia akan meregistrasi kebudayaan itu berdasarkan Bab 67 Undang-undang Peninggalan Nasional 2005.
Guru besar hukum internasional UI itu mengatakan, "Kesalahan terbesar pemerintah Malaysia adalah memformalkan. Ini tindakan provokatif dan agresif di bidang kebudayaan terhadap Indonesia. Sensitivitas pemerintah Malaysia diperlukan karena dalam hubungan bertetangga yang mengalami pasang surut pasti publik Indonesia akan marah,”. Berita Malaysia akan mempatenkan kebudayaan Indonesia menjadi warisan leluhurnya memang bukan sekali ini saja, upaya serupa pernah dilakukan terhadap lagu Rasa Sayange, Beragam jenis dan motif Batik, hingga Reog Ponorogo.
Indonesia memang menyimpan terlalu banyak kekayaan budaya, bukan tak mungkin membuat negara-negara lain ingin memiliki dan mempatenkannya pula. Namun selayaknya kita sebagai pemilik kebudayaan tersebut, pasti lebih tau bagaimana bisa menjaga dan memperkenalkan ke mata dunia tentang kekayaan budaya di Indonesia.



Fungsi dari Tari Tor Tor  :
 sebagai sebagai syarat khusus atau tari pembersih yang dilaksanakan sebagai langkah sebelum acara hajat agar diberi kelancaran dan di jauhkan dari segala marah bahaya. Dan juga apabila desa tempat tinggal suku Batak pernah terkena musibah maka pada tanggal musibah itu diadakan pagelaran Tari Tortor. Ada juga rakyat sekitar yang mengatakan bahwa tari tor tor berfungsi dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil dan “dimasukan” ke patung-patung batu (merupakan simbol leluhur).
Kostum Tari Tor Tor :
Kostum Tari Tor Tor terbilang sangat unik tetapi tetap berkesan sederhana. Kostum Tari tortor pada umumnya berwarna merah dan busana Tari Tor Tor ini terbuat dari tenunan asli orang Batak yang disebut dengan Ulos. Tambahan berbagai aksesori dan pernak pernik khas Batak membuat penampilan kostum penari Tortor lebih meriah.


Gambar Tari Tor Tor :





 

Tari Serampang Dua Belas

Nama Kelompok :
1. Annisa Ramadhania
2. Bayu Aji Saputro
3. Fadhillah Hernandi
4. Vira Sefika Madani
TARI SERAMPANG 12

ASAL-USUL TARI
               
 Tari Serampang Duabelas merupakan tarian tradisional Melayu yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan diubah ulang oleh penciptannya antara tahun 1950-1960. sebelum bernama Serampang Duabelas, tarian ini bernama Tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari.
Tarian ini merupakan jenis tari tradisional yang dimainkan sebagai tari pergaulan. Sedikitnya ada dua alasan mengapa nama Tari Pulau Sari diganti Serampang Duabelas. pertama, nama Pulau Sari kurang tepat karena tarian ini bertempo cepat  (quick step). Menurut Tengku Mira Sinar, nama tarian yang diawali kata ’’pulau’’ biasanya bertempo rumba, seperti Tari Pulau Kampai dan Tari Pulau Putri. Sedangkan Tari Serampang Duabelas memiliki gerakan bertempo cepat seperti Tari Serampang Laut. Berdasarkan hal tersebut, Tari Pulau Sari lebih tepat disebut Tari Serampang Duabelas. Nama duabelas sendiri berarti tarian dengan gerakan tercepat diantara lagu yang bernama Serampang. Kedua, penamaan Tari Serampang Duabelas merujuk pada ragam gerak tarianya yang berjumlah 12, yaitu :
v  Pertemuan pertama
v  Cinta meresap
v  Memendam cinta
v  Menggila mabuk kepayang
v  syarat tanda cinta
v  Balasan isyarat
v  Menduga
v  Masi belum percaya
v   Jawaban
v   Pinang-meminang
v  Mengantar pengantin
v  Pertemuan kasih
Menurut Tengku Mira Sinar, Tarian ini merupakan hasil perpaduan gerak antara tarian Portugis dan Melayu Serdang. Pengaruh Portugis dapat dilihat pada keindahan gerak tarinya dan kedinamisan irama musik pengiringnya. Tari Serampang Duabelas berkisah tentang cinta suci anak manusia yang muncul sejak pandangan dan diakhiri dengan pernihkahan yang direstui ole kedua orang tua sang dara dan teruna. Oleh karena menceritakan proses bertemunya dua hati, maka tarian ini biasanya  dimainkan secara  berpasangan, laki-laki dan perempuan. Namun,
PERKEMBANG TARI
        Pada awal perkembangannya tarian ini hanya dibawakan oleh laki-laki karena kondisi masyarakat pada waktu itu melarang perempuan tampil di depan umum, apalagi memperlihatkan lenggak-lenggok tubuhnya. Diperbolehkannya perempuan memainkan Tari Serampang Duabelas tidak hanya berkembang dan dikenal oleh masyarakat di wilayag kesultanan Serdang, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Riau, Jambi, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai ke Maluku. Selain dikenal dan dimainkan diseluruh tanah ai, Tari Serampang Duableas juga terkenal dan sering dibawakan di beberapa Negara tentangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Hongkong.
   Keberadaan Tari Serampang Duabelas karya Sauti ini, mendapat  sambutan yang luar biasa di seluruh tanah air dan Negara tetangga. Seiring dengan perkembangan ini, Pemerintah daerah Kabupaten Serdang  Bedagai inisiatif untuk melindungi hak cipta Tari Serampang Duabelas. Hal ini dilakukan untuk memperkenalkan kembali pada masyarakat banyak tentang asal muasal dari tari ini, sehingga generasi muda tahu dan mengerti. Selain itu, diadakan juga berbagai pagelaran lomba Tari Serampang Dua Belas terutama untuk kalangan masyarakat yang berada di kawasan Kabupaten Serdang Bedagai.
TOKOH PEMBINA
                Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada era 1940-an dan diubah ulang antara tahun 1950-1960. Sauti lahir tahun 1903 di Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai ketika menciptakan Tari Serampang Duabelas sedang bertugas di Dinas PP dan K Provinsi Sumatera Utara. Atas inisiatif dari Dinas yang menaunginya, Sauti diperbantukan menjadi guru diperwakilan Jawatan Kebudayaan Sumatera Utara di Medan. Pada masa itulah Sauti juga berhasil menggubah beberapa tari lain, yaitu jenis Tiga Serangkai yang terdiri dari Tari Senandung dengan lagu Kuala Deli,  Tari Mak Inang dengan lagu Pulau Kampai, dan Tari lagu Dua dengan lagu Tanjung Katung.
                FUNGSI TARI
                Fungsi tari ini adalah sebagai tari pergaulan dikalangan muda mudi melayu. Selain itu, diadakan juga berbagai pagelaran lomba Tari Serampang Duabelas terutama untuk kalangan masyarakat yang berada dikawasan Kabupaten Serdang Bedagai.
                MUSIK PENGIRING TARI
                Pada awalnya musik pengiring tari masih menggunakan peralatan musik tradisional. Namun seiring perkembangan zaman peralatan musik yang digunakan semakin beragam.
                BUSANA TARI
                Biasanya tarian ini menggunakan pakaian adat melayu di pesisir timur pulau sumatera walaupun bukan peralatan  yang utama, keberadaan pakaian ini sangat penting. Ada dua alasan yaitu pertama warna pakaian yang berwarna warni dan kedua  penggunaan  pakaian adat menunjukkan  asal Tarian Serampang Duabelas
                PENARI
                Pada awal perkembanganya Tari Serampang Duabelas ditarikan oleh laki-laki secara berpasangan sedangkan kaum perempuan belum boleh ikut menari karena menari berarti akan memperlihatkan lekuk tubuh merekn dan itu dilarang, namun pada zaman sekarang tarian ini ditarikan oleh laki-laki maupu perempuan secara berpasangan.
    KEISTIMEWAAN    
Nama Tari Serampang Dua Belas sebetulnya diambil dari dua belas ragam gerakan tari yang bercerita tentang tahapan-tahapan proses pencarian jodoh hingga memasuki tahap perkawinan          :
·         Ragam I adalah permulaan tari dengan gerakan berputar sembari melompat-lompat kecil yang menggambarkan pertemuan pertama antara seorang laki-laki dan perempuan. Gerakan ini bertutur tentang pertemuan sepasang anak muda yang diselingi sikap penuh tanda tanya dan malu-malu.
·         Ragam II adalah gerakan tari yang dilakukan sambil berjalan kecil, lalu berputar dan berbalik ke posisi semula sebagai simbol mulai tumbuh benih-benih cinta antara kedua insan. Ragam II ini bercerita tentang mulai tumbuhnya rasa suka di antara dua hati, akan tetapi mereka belum berani untuk mengutarakannya.
·         Ragam III memperlihatkan gerakan berputar (tari Pusing) sebagai simbol sedang memendam cinta. Dalam tarian ini nampak pemuda dan pemudi semakin sering bertemu, sehingga membuat cinta makin lama makin bersemi. Namun, keduanya masih memendamnya tanpa dapat mengutarakannya. Gerakan dalam tarian ini menggambarkan kegundahan dua insan yang memendam rasa.
·         Ragam IV dilakukan dengan gerakan tarian seperti orang mabuk sebagai simbol dari dua pasang kekasih yang sedang dimabuk kepayang. Gerak tari yang dimainkan dengan melenggak-lenggok dan terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Pada ragam ini (Tahap IV) proses pertemuan jiwa sudah mulai mendalam dan tarian ini menggambarkan kondisi kedua insan yang sedang dimabuk kepayang karena menahan rasa yang tak kunjung padam.
·         Ragam V dilakukan dengan cara berjalan melenggak-lenggok sebagai simbol memberi isyarat. Pada ragam ini, perempuan berusaha mengutarakan rasa suka dan cinta dengan memberi isyarat terhadap laki-laki, yaitu dengan gerakan mengikuti pasangan secara teratur. Gerakan tari pada Ragam V ini sering juga disebut dengan ragam gila.
·         Ragam VI merupakan gerakan tari dengan sikap goncet-goncet sebagai simbol membalas isyarat dari kedua insan yang sedang dilanda cinta. Pada ragam ini, digambarkan pihak laki-laki yang mencoba menangkap isyarat yang diberikan oleh perempuan dengan menggerakkan sebelah tangan. Si pemuda dan pemudi kemudian melakukan tarian dengan langkah yang seirama antara pemuda dan pemudi.

Gerakan Tari Serampang Dua Belas.
·         Ragam VII dimulai dengan menggerakkan sebelah kaki kiri/kanan sebagai simbol menduga. Hal ini menggambarkan terjadinya kesepahaman antara dua pasang kekasih dalam menangkap isyarat yang saling diberikan. Dari isyarat ini mereka telah yakin untuk melanjutkan kisah yang telah mereka rajut hingga memasuki jenjang perkawinan. Setelah janji diucapkan, maka sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara tersebut pulang untuk bersiap-siap melanjutkan cerita indah selanjutnya.
·         Ragam VIII dilakukan dengan gerakan melonjak maju-mundur simbol proses meyakinkan diri. Gerakan ini dilakukan dengan melompat sebanyak tiga kali yang dilakukan sembari maju-mundur. Muda-mudi yang telah berjanji, mecoba kembali meresapi dan mencoba meyakinkan diri untuk memasuki tahap kehidupan selanjutnya. Gerakan tari dilakukan dengan gerak bersuka ria yang menunjukkan sepasang kekasih sedang asik bersenda-gurau sebelum memasuki jenjang pengenalan dengan kedua keluarga besar.  
·         Ragam IX adalah gerakan tari yang dilakukan dengan melonjak sebagai simbol menunggu jawaban. Gerakan tari menggambarkan upaya dari muda-mudi untuk meminta restu kepada orang tua agar menerima pasangan yang mereka pilih. Kedua muda-mudi tersebut berdebar-debar menunggu jawaban dan restu orang tua mereka.
·         Ragam X menggambarkan gerakan saling mendatangi sebagai simbol dari proses peminangan dari pihak laki-laki terhadap perempuan. Setelah ada jawaban kepastian dan restu dari kedua orang tua masing-masing, maka pihak pemuda mengambil inisiatif untuk melakukan peminangan terhadap pihak perempuan. Hal ini dilakukan agar cinta yang sudah lama bersemi dapat bersatu dalam sebuah ikatan suci, yaitu perkawinan.
·         Ragam XI memperlihatkan gerakan jalan beraneka cara sebagai simbol dari proses mengantar pengantin ke pelaminan. Setelah lamaran yang diajukan oleh pemuda diterima, maka kedua keluarga akan melangsungkan perkawinan. Gerakan tari biasanya dilakukan dengan nuansa ceria sebagai ungkapan rasa syukur menyatunya dua kekasih yang yang sudah lama dimabuk asmara menuju pelaminan dengan hati yang berbahagia.

Memadukan sapu tangan, pertanda menyatunya dua hati
·         Ragam XII atau ragam yang terakhir dimainkan dengan menggunanan sapu tangan sebagai sebagai simbol telah menyatuya dua hati yang saling mencintai dalam ikatan perkawinan. Pada ragam ini, gerakan tari dilakukan dengan sapu tangan yang menyatu yang manggabarkan dua anak muda sudah siap mengarungi biduk rumah tangga, tanpa dapat dipisahkan baik dalam keadaan senang maupun susah.
Ragam tarian yang dimainkan dalam Tari serampang Dua Belas bertambah indah dan menarik dengan komposisi pakaian warna-warni yang dipakai para penarinya. Lenggak-lenggok para penari begitu anggun dengan berbalut kain satin yang menjadi ciri khas pakaian adat dari masyarakat Melayu di pesisir pantai timur Pulau Sumatra. Sapu tangan melengkapi perpaduan pakaian tersebut yang kemudian dipergunakan sebagai media tari pada gerakan penutup Tari Serampang Dua Belas.
Gambar Tari Serampang Dua Belas :




Tari Caping

TARI CAPING NGANCAK

Tari ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat Lamongan yang sebagian besar adalah masyarakat petani. Tari ini menggambarkan proses para petani yang sedang bekerja mulai dari menanam, merawat, hingga memanen.
Prestasi tari : Fenomenal, itulah kata yang pantas diucapkan terkait prestasi Lamongan beberapa tahun terakhir ini di bidang seni tari. Buktinya, satu lagi tari produk Lamongan, yakni Caping Ngancak berhasil menjadi juara I dalam festival seni tari siswa tingkat nasional di Bandung Kamis (24/7) malam.
  Tari Caping Ngancak maju ke bandung mewakili Jawa Timur dan akhirnya mampu menyisihkan kontestan lain dari 33 propinsi se-Indonesia. Sebelum terpilih menjadi juara tari Caping Ngancak masuk lima besar. Diantaranya bersaing dengan Provinsi Banten, Jawa Barat, Sumatera, dan Kalimantan selatan.
 Dalam pelaksanaan lomba kemarin para siswi SMPN 1 Kembangbahu dihadapkan pada para juri yang berasal dari STSI Bandung, IKJ, dan Departemen Pendidikan nasional (Depdiknas) sebagai pelaksana festival. Acara ini berlangsung 23 dan 24 juli di STSI Bandung, dibuka oleh Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf.

 Tari Caping Ngancak menceritakantentang kehidupan dan kegiatan sehari-hari petani. Antara lain, berangkat dari rumah, bertanam padi, hingga panen. Tari ini disusun sekitar April lalu. sebulan setelah diciptakan diikutkan dalam festival budaya Adikara II di malang dan meraih tiga dari lima nominasi disediakan.

 Terdapat Tari Caping Ngancak di daerah Lamongan yang juga terus berkembang karena letak dari wilayah Lamongan juga sangat agraris. Tari Caping Ngancak menceritakan tentang kehidupan masyarakat Lamongan yang sebagian besar adalah masyarakat petani. Tari ini menggambarkan proses para petani yang sedang bekerja mulai dari menanam, merawat, hingga memanen.
Selain Tari Caping Ngancak, Tari Turonggo Solah juga terkenal di kota Lamongan. Tari ini menggambarkan sekelompok prajurit berkuda yang sedang berlatih. Mereka terlihat sangat lincah. Tari ini merupakan pengembangan dari kesenian Kepang Dor yang bertujuan untuk melestarikan kesenian-kesenian yang masih sangat banyak di Kabupaten Lamongan. 
 Gambar Tari Caping :


Tari Ongkek Manis

Tari Ongkek Manis

Tari ongkek manis merupakan salah satu tari kreasi baru yang berasal dari Jawa Timur. Tari kreasi baru adalah tari klasik yang dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman dan diberi nafas Indonesia baru. Contoh tari kreasi baru adalah karya dari Bagong Kusudiarjo dari padepokan Bagong Kusudiarjo dan Untung dari sanggar Kembang Sore dari Yogyakarta.
-          Property
Properti yang digunakan dalam Tari Ongkek Manis:
1.       Kipas
2.       Sampur
3.       Kostum yang berupa : jarik,baju,celana,hiasan kepala,dan hiasan untuk leher dan sabuk.
-          Iringan
Karena tari ongkek manis merupakan tari kreasi baru, maka musiknya atau iringannya adalah lagu ageung atau opat wilet.

>>Tari Ongkek Manis biasanya dibawakan oleh wanita ,bisa secara masal ataupun tunggal. Tarian ini dibawakan dengan gerakan yang agak lembut agar manis seperti nama tariannya. Karena tari ongkek manis berasal dari Jawa Timur maka kostumnya berwarna-warni sesuai dengan ciri khas orang Jawa Timur selain itu tujuannya agar meriah dan lebih menarik.
>>Tari ongkek manis menceritakan tentang seorang remaja perempuan yang beranjak dewasa.

Gambar Tari Ongkek Manis :



Tari Kreasi Baru

Tari kreasi baru adalah tari-tari klasik yang dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman dan diberi nafas Indonesia baru. Contoh tari kreasi baru adalah karya-karya dari Bagong Kusudiarjo dari padepokan Bagong Kusudiarjo dan Untung dari sanggar kembang sore dari Yogyakarta.Contohnya adalah :
Tari Kupu-Kupu; Tari Merak; Tari Roro Ngigel; Tari Ongkek Manis; Tari Manipuri; Tari Roro Wilis,dll
Tari Kreasi Baru dan Tari Modern
Tari kreasi baru adalah tari-tariklasik yamg dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman dan diberi nafas Indonesia baru. Contoh tari kreasi baru adalah karya-karya dari Bagong Kusudiarjo dari padepokan Bagong Kusudiarjo dan Untung dari sanggar kembang sore dari Yogyakarta.
§ Contohnya adalah :
• Tari Kupu-Kupu
• Tari Merak
• Tari Roro Ngigel
Tari Ongkek Manis
• Tari Manipuri
• Tari Roro Wilis,dll
2. Tari Kreasi
Tari kreasi adalah suatu bentuk garapan/karya tari setelahnya bentuk-bentuk tari tradisi hidup berkembang cukup lama di masyarakat. Bentuk tarian ini bermunculan sebagai ungkapan rasa bebas, mulai ada gejalanya setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945.
Kebebasan ini mendorong pula kreativitas para seniman tari, setelahnya melihat/merasakan ada perubahan jaman dalam kehidupan masyarakatnya dan menjadikan motivasi untuk membuat karya-karya baru memenuhi kebutuhan zamannya
Pada garis besarnya tari kreasi dibedakan menjadi dua golongan yaitu:
a. Tari Kreasi Baru Berpolakan Tradisi
Yaitu tari kreasi yang garapannya dilandasi oleh kaidah-kaidah tari tradisi, baik dalam koreografi, musik/karawitan, rias dan busana, maupun tata teknik pentasnya. Walaupun ada pengembangan tidak menghilangkan esensiketradisiannya.
b. Tari Kreasi Baru Tidak Berpolakan Tradisi (Non Tradisi)
Tari Kreasi yang garapannya melepaskan diri dari pola-pola tradisi baik dalam hal koreografi, musik, rias dan busana, maupun tata teknik pentasnya. Walaupun tarian ini tidak menggunakan pola-pola tradisi, tidak berarti sama sekali tidak menggunakan unsur-unsur tari tradisi, mungkin saja masih menggunakannya tergantung pada konsep gagasan penggarapnya. Tarian ini disebut juga tari modern, yang istilahnya berasal dari kata Latin “modo” yang berarti baru saja.


Selasa, 10 Februari 2015

Tari Lilin


 TARI LILIN

Disusun oleh :
Kelompok 1 X-MIA 1
1. Aflicha Meyzy                             (02)
2. Ahmad Ali Azhary                       (03)
3. Franscisca Oktavia Dewi            (17)
   4. Wyllhans Ruwangga                   (30)




Pengertian:
 Tarian Lilin merupakan sebuah tarian yang dipersembahkan oleh sekumpulan penari dengan diiringi sekumpulan pemusik.
 Tarian lilin merupakan sejenis kesenian Istana dan ditarikan pada waktu malam bagi menimbulkan nyalaan lilin tersebut. Ini karena tari lilin memerlukan penarinya giat berlatih agar dapat mengawal pergerakan dengan lilin yang menyala tanpa kemalangan.

Asal –usul:
Asal usul Tarian Lilin dipercayai berasal dari Sumatera. Kononnya seorang gadis telah ditinggalkan oleh tunangannya yang pergi berdagang mencari harta. Semasa peninggalan tunangnya itu gadis telah kehilangan cincin pertunangan. Gadis tersebut mencari-cari cincin hingga larut malam dengan menggunakan lilin yang diletakkan pada piring. Gerakan badan yang meliuk, membongkok, mengadah (berdoa) melahirkan keindahan sehingga peristiwa ini telah melahirkan Tarian Lilin di kalangan gadis-gadis kampung itu.

Tata Busana:
Tata busana yang merupakan penunjang, dan penambah keindahan suatu tarian sangat terlihat dalam tari Lilin sehingga tari ini tampak lebih megah, semegah kejayaan kerajaan Sriwijaya tempo dulu. Busana yang dipergunakan adalah Pakaian Gede atau Hiasan Gede (pakaian khas Palembang yang biasanya dipakai untuk pakaian pengantin wanita di Palembang), Hiasan Gede dipakai oleh penari inti, sedangkan penari yang lainnya menggunakan Hiasan Dodot atau Selendang Mantri. Makna kostumnya lebih menekankan kepada kejayaan zaman Hindu Budha pada Zaman kerajaan Sriwijaya yang kuat dipengaruhi kebudayaan Cina, terutama pada hiasan kepala, dada, dan tangan.

 Gerakan Tari Lilin:
 Pada setiap belah  tangan penari membawa lilin yng dinyalakan. Penari akan menarikan tarian secara berkumpulan dengan memusingkan piring yang mempunyai lilin yang menyala secara berhati-hati agar piring tersebut sentiasa mendatar, dan lilin tidak terpadam. Gerakan badan yang meliuk, membongkok, mengadah (berdoa) melahirkan keindahan


Makna :
Tari Lilin dapat dipandang sebagai lambang, jika dilihat melalui gerak, pola lantai tari Lilin , dan kostum mengandung arti simbol-simbol tertentu yang menyimpan nilai-nilai masa lalu (Primodial) Hindu.

Gambar Tari Lilin :
 



  





Sumber :
http://ms.wikipedia.org/wiki/Tarian_Lilin
http://lelychusna.blogspot.com/2011/04/tari-lilin.html
http://budayaindo.com/fungsi-tari-lilin